Kata Bijak Mario Teguh

Jika cinta itu tidak gila,
maka itu bukan cinta.

Jika Anda menolak melakukan
sesuatu untuk membahagiakannya,
hanya karena hal itu bukan cara
yang biasa Anda lakukan,
maka Anda tidak cukup mencintainya.

Kesediaan Anda untuk mengubah
kebiasaan yang Anda sukai selama ini,
adalah persembahan yang membuktikan
kekuatan cinta Anda kepadanya.

Tidak ada yang aneh atau gila, jika itu untuk cinta.

Seorang optimis
hanya punya satu kekhawatiran,
yaitu dia tidak cukup menyiapkan diri
bagi tantangan yang lebih besar
di masa depan.

Sedangkan seorang yang pesimis
memiliki lebih banyak alasan
untuk berkecil hati,
bahkan mengenai hal-hal
yang berpotensi sangat baik.

Anda mungkin tidak tahu
apakah Anda optimis atau tidak,
tetapi jika wajah Anda ceria
dan tubuh Anda bersegera,
Anda seorang optimis.

Sesungguhnya,

Bukan keinginan yang
menjadi sumber penderitaan,
tetapi ketidak-mampuan.

Tertahannya keinginan
untuk mencapai kebaikan
adalah pemberitahuan untuk
memperbaiki kemampuan.

Orang yang sedang tidak mampu,
harus bekerja dengan giat
di dalam doanya,
agar dia dirahmati dengan rezeki
yang akan memampukannya.

Hormatilah keinginan Anda,
agar ia menghebatkan upaya Anda
dalam membangun kemampuan.

Jika kita ikhlas meyakini
Tuhan adalah satu-satunya
tempat berharap dan meminta

dan Tuhanlah yang meninggikan
atau merendahkan kita

dan kekuasaan-Nya tak terbatas

dan bahwa kita terhubung langsung
dengan-Nya tanpa perantara

kita akan kecewa sedikit
terhina secukupnya
sedih atau marah sebentar,

tapi selebihnya kita hidup dinamis
dalam penyerahan yang damai
kepada Tuhan.

Kesabaran bukanlah sifat,
tetapi sebuah akibat.

Jika Anda sepenuhnya menyadari
kerugian yang bisa disebabkan
oleh reaksi yang ceroboh dan
berlebihan dalam kemarahan,
Anda bisa menjadi berhati-hati
dalam bereaksi terhadap apa pun
yang membuat Anda merasa marah.

Kehati-hatian dalam bereaksi
terhadap yang membuat Anda marah itulah
yang menjadikan Anda tampil sabar.

Sabar adalah biaya kebahagiaan.

MAKALAH FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN

BELAJAR  MENGAJAR

A. Pendahuluan

Pengertian Belajar menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology (1961), Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar.[1]

Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.

Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak.[2]

B. Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi belajar mengajar ?
  2. Apa saja indikator keberhasilan belajar mengajar ?
  3. Bagaimana cara mengukur atau menilai tingkat keberhasilan tersebut ?
  4. Bagaimana cara program perbaikan bila tidak mencapai keberhasilan?

C. Pembahasan

1. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Belajar Mengajar

Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah :

  1. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan bentuk tingkah laku atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Rumusan tujuan pembelajaran dapat dibuat dalam berbagai macam cara. Seringkali terjadi, rumusan itu menggambarkan apa yang akan dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Jika rumusan semacam ini dibuat, tidak memberi tuntutan kepada siswa untuk belajar sehingga memperoleh hasil tertentu. Dengan singkat dapat dikemukakan bahwa rumusan tujuan harus menggambarkan bentuk hasil belajar yang ingin dicapai siswa melalui proses pembelajaran dilaksanakan.[3]

  1. Guru

Peran guru di sekolah juga sangat penting dalam meningkatkan kemauan belajar anak anak. Seorang guru dapat memotivasi dan memberikan pengarahan kepada anak anak bagaimana cara belajar yang baik dan mengembangkan potensi lebih yang terdapat pada anak.

Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar yaitu :

1)    Kepribadian

Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas

2)    Pandangan terhadap anak didik

Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. Karena prosesnya berbeda, hasil proses belajarnya pun akan berbeda.

3)    Latar belakang dan Pengalaman guru

Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya.

Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar , akan banyak menemukan masalah dikelas. Oleh sebab itu, untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5.

  1. Anak Didik

Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah :

1)    Psikologis anak didik

2)    Biologis anak didik

3)    Intelektual anak didik

4)    Kesenangan terhadap pelajaran

5)    Cara belajar anak didik[4]

Hal diatas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik , misalnya pendiam, aktif, keras kepala, kreatif , manja dan sebagainya. Anak yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan kelas.

Angka-angka dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. Hal ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru, karena itu dikenalilah tingkat keberhasilan maksimal (istimewa), Optimal (baik sekali), minimal (baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik.[5]

  1. Media Pembelajaran

Media pembelajaran ini membuat konkrit konsep-konsep yang masih abstrak. Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada siswa bisa dikonkritkan atau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran.[6]

  1. Kegiatan Pengajaran

Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang mengajar, anak didik yang belajar.. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik.

Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu:

1)    Gaya mengajar guru

a)    Gaya mengajar klasik,

b)    Gaya mengajar teknologis,

c)    Gaya mengajar personalisasi dan

d)    Gaya mengajar interaksional

2)    Pendekatan guru

a)    Pendekatan individual

Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya

b)    Pendekatan kelompok

Berusaha memahami anak didik sebagai mahluk sosial. Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik.

3)     Strategi penggunaan metode

Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 metode pengajaran misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata pelajaan IPS. Jarang guru menggunakan 1 metode dalam melaksanakan pengajaran , hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu, tetapi bisa lebih dari dua rumusan.

  1. Evaluasi

Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Hal yang perlu dalam suasana evaluasi adalah

1)    Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas

2)    Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing

3)    Besar sedikitnya anak didik dalam kelas

4)    Berlaku jujur, baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut.[7]

2. Indikator Dan Penilaian Keberhasilan

Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, adalah:

  1. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok,
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai siswa baik individu maupun klasikal.

Penilaian keberhasilan dalam belajar mengajar dapat menggunakan tes prestasi belajar untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan. Tes prestasi belajar dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut :

  1. Tes Formatif

Penilaian ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.

b.  Tes Subsumatif

Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu, bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.

c.    Tes Sumatif

Tes ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua tahun pelajaran, Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu.

Hasil tes ini digunakan untuk kenaikan kelas, menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah.[8]

3. Tingkat Keberhasilan

Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru, kita dapat menggunakan tingkat acuan sebagai berikut:

  1. Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa,
  2. Baik sekal / optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa,
  3. Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa
  4. Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa.[9]

4. Program Perbaikan

Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri. Ada dua point yang dapat dilihat dari hasil tingkat keberhasilan proses belajar mengajar :

  1. Apabila 75 % anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai tingkat keberhasilan minimal, optimal atau maksimal, maka dapat dilanjutkan ke proses belajar untuk pokok bahasan yang baru.
  2. Apabila 75 % anak didik kurang (dibawah taraf minimal ) dalam mencapai tingkat keberhasilan , maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan

Pengukuran tentang tingkatan keberhasilan proses mengajar sangat penting karena itu pengukuran harus betul-betul Sahih ( Valid ), Andal ( reliable) dan Lugas ( Objective). Hal ini dapat tercapai apabila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah, aturan, hukum atau ketentuan penyusunan tes. Pengajaran perbaikan mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

  1. Mengulang pokok bahasan seluruhnya
  2. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai
  3. Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama
  4. Memberi tugas-tugas khusus[10]

D. Kesimpulan

Setelah kami uraikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar – mengajar, secara garis besar  dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

  1. Keberhasilan belajar mengajar dipengaruhi berbagai aspek baik guru , anak didik, evaluasi, media pembelajaran dan suasana lingkungan belajar mengajar di sekolah.
  2. Indikator keberhasilannya ditentukan berapa besar daya serap siswa terhadap bahan pelajaran yang diajarkan.
  3. Apabila 75% siswa masih dibawah taraf minimal dalam mencapai tingkat keberhasilan, maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan.

Daftar Pustaka

http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/pengertian-belajar.html

http://mitanggel.blogspot.com/2009/09/pengertian-mengajar.html

Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. Perencanaan Pembelajaran, Bandung. CV Wacana Prima : 2008

http://ustadsatria.blogspot.com/

http://akta408.wordpress.com/

Drs. Rudi Susilana, M.Si, Cepi Riyana, M.Pd, Media Pembelajaran, (Bandung, CV Wacana Prima : 2007

Moh Uzer Usman dan Lilis Setiawati; Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung. PT Remaja Rosdakarta : 1993


[1] http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/pengertian-belajar.html

[2] mitanggel.blogspot.com/2009/09/pengertian-mengajar.html

[3] Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. Perencanaan Pembelajaran, (Bandung, CV Wacana Prima), 91

[4] http://ustadsatria.blogspot.com/

[5] http://akta408.wordpress.com/

[6] Drs. Rudi Susilana, M.Si, Cepi Riyana, M.Pd, Media Pembelajaran, (Bandung, CV Wacana Prima), 10

[7] http://akta408.wordpress.com/

[8] http://akta408.wordpress.com/

[9] http://akta408.wordpress.com/

[10] Moh Uzer Usman dan Lilis Setiawati; Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung PT Remaja Rosdakarta), 22

Metodologi Pendidikan Islam

A. Pendahuluan

    Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan.

    Menurut Qomari Anwar, menyatakan bahwa “Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan.”[1]

    B. Perumusan Masalah

      Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka timbul beberapa permasalahan yang akan penulis bahas, yaitu :

      1. Apa pengertian metodologi pendidikan Islam ?
      2. Apa saja metodologi pendidikan Islam itu ?

      C. Pembahasan

      1. Pengertian Metodologi Pendidikan Islam

        1. Sebagai suatu ilmu metodologi merupakan bagian dari perangkat disiplin keilmuan yang menjadi induknya. Hampir semua ilmu pengetahuan mempunyai metodologi tersendiri. Demikian pula ilmu pengetahuan islam merangkum metodologi pendidikan islam yang tugas dan fungsinya adalah memberikan jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan Islam.

        Secara etimologi (bahasa) Metode berasal dari dua perkataan yaitu ”meta” dan ”hodos”. ”Meta”  berarti ”melalui” dan ”hodos” berarti ”jalan atau cara”. Bila ditambah dengan ”logi” sehingga menjadi ”metodologi” berarti ”ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”. Oleh karena kata ”logi” yang berasal dari bahasa Greek (Yunani) ”logos” berarti ”akal” atau ”ilmu”. [2]

        Secara terminologi (istilah), para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, yaitu :

        1. Menurut Surakhmad definisi metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.[3]
        2. Menurut Yusuf definisi metodologi adalah ilmu yang mengkaji atau membahas tentang bermacam-macam metode mengajar, keunggulannya, kelemahannya, kesesuaian dengan bahan pelajaran dan bagaimana penggunaannya. [4]
        3. Poerwakatja, mengemukakan metode berarti jalan ke arah suatu tujuan yang mengatur secara praktis bahan pelajaran, cara mengajarkannya dan cara mengelolanya.[5]

        Sedangkan Pendidikan Islam adalah merupakan usaha sadar dalam membimbing, memelihara baik secara jasmani dan sosial, rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial, untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji serta taat pada agama Islam, sehingga dapat tercapai kehidupan bahagia dan sejahtera lahir dan batin di dunia dan akhirat.[6]

        Berdasarkan rumusan-rumusan di atas, dapat dipahami bahwa metodologi pendidikan Islam adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang digunakan oleh pendidik muslim, sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku, sehingga nilai-nilai Islami dapat terlihat dalam pribadi peserta didik (subjek dan obyek pendidikan).

        2. Macam-macam Metodologi Pendidikan Islam

          Metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam adalah :

          a. Metode Hiwar

            Metode hiwar adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik yang mengarah pada satu tujuan. Percakapan itu bisa dialog langsung dan melibatkan kedua belah pihak secara aktif, atau bisa juga yang aktif hanya salah satu pihak saja, sedang pihak lain hanya merespon dengan segenap perasaan, penghayatan dan kepribadiannya.[7]

            Hiwar mempunyai dampak yang dalam bagi pembicara juga bagi pendengar pembicaraan. Ini disebabkan beberapa hal, yaitu:

            1)      Kedua pihak saling memperhatikan. Jika tidak memperhatikan tentu tidak dapat mengikuti jalan pikiran pihak lain. Kebenaran atau kesalahan masing-masing dapat diketahui dan direspon saat itu juga. Topic-topik baru seringkali ditemukan dalam pembicaraan seperti itu. Cara kerja metode ini seperti diskusi bebas.

            2)      Pendengar tertarik untuk mengikuti terus pembicaraan itu, karena ia ingin tahu kesimpulannya. Diikuti dengan penuh perhatian, tidak bosan dan tetap semangat.

            3)      Metode ini dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya.

            b. Metode Teladan

              Allah telah menunjukkan bahwa contoh teladan dari kehidupan Nabi Muhammad adalah mengandung nilai-nilai paedagogis bagi manusia. Seperti ayat yang menyatakan :

              ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$#

              tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.  (الآحزاب :21)

              Artinya : ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al Ahzab : 21)[8]

              Menurut jalaluddin, dalam segala hal anak merupakan peniru yang ulung. Sifat meniru ini merupakan sifat modal positif dalam pendidikan keagamaan pada anak. Oleh karena itu, menjadi tugas seorang guru untuk sedapat mungkin menjadikan dirinya sebagai top figur bagi anak didiknya.[9]

              c. Metode Pembiasaan

                Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pendidikan dan pembinaan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan seorang pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didiknya. Menurut Suardi, ”Kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi”.[10] Sedangkan menurut Tafsir, “Pembiasaan merupakan teknik pendidikan yang jitu. Oleh karena itu, pembiasaan ini harus mengarah kepada pembiasaan yang baik.”[11]

                Pembiasaan shalat misalnya, hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW. memerintahkan kepada para orang tua dan pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat, ketika berumur tujuh tahun, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan Tirmidzi :

                مُرُوْا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَةِ اِذِا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ اِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

                Artinya :“Suruhlah olehmu anak-anak itu shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun, dan apabila ia sudah berumur sepuluh tahun, maka hendaklah kamu pukul jika ia meninggalkan shalat”. (H.R. Tirmidzi)

                d. Metode Bimbingan dan Penyuluhan

                  Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing dan menasehati manusia sehingga dapat memperoleh kehidupan batin dan tenang. Dengan metode ini manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan kehidupan yang dihadapi atas dasar iman dan takwanya. Ayat yang menunjukkan metode demikian adalah sebagai berikut :

                  $pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# ô‰s% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§‘ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 ’Îû ͑r߉Á9$# “Y‰èdur ×puH÷qu‘ur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9

                  Artinya : ”Wahai manusia, telah datang kepadamu bimbingan (mau’idhah) dari Tuhanmu dan obat penyembuh bagi apa yang ada di dalam hatimu serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.Yunus: 57)[12]

                  e. Metode Cerita

                    Metode mendidik dengan bercerita yaitu dengan mengisahkan peristiwa sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatannya atau kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawa oleh Nabi atau Rasul yang hadir di tengah mereka. Misalnya sebuah ayat yang mengandung nilai pedagogis dalam sejarah digambarkan Tuhan sebagai berikut :

                    ô‰s)s9 šc%x. ’Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ï㠒Í<‘rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏ‰tn 2”uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏ‰óÁs? “Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ Ÿ@‹ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« “Y‰èdur ZpuH÷qu‘ur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sム  (يوسوف : 111)

                    Artinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. [13]

                    f. Metode Hukuman

                      Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan adalah;

                      1)      Memberi nasehat dan petunjuk.

                      2)      Ekspresi cemberut.

                      3)      Pembentakan.

                      4)      Tidak menghiraukan murid.

                      5)      Pencelaan disesuaikan dengan tempat dan waktu yang sesuai.

                      6)      Memberi pekerjaan rumah/tugas.

                      7)      Alternatif terakhir adalah pukulan ringan.

                      Hal yang menjadi prinsip dalam memberikan sanksi adalah tahapan dari yang paling ringan, sebab tujuannya adalah pengembangan potensi baik yang ada dalam diri anak didik.[14]

                      g. Metode targhieb dan tarhib

                        Metode targhib dan tarhib yaitu cara memberikan pelajaran dengan memberi dorongan (motivasi) untuk memperoleh kegembiraan bisa mendapatkan sukses dalam kebaikan. Sedang bila tidak sukses karena tidak mau mengikuti petunjuknya yang benar akan mendapat kesusahan.   Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah: 7-8,

                        `yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§‘sŒ #\ø‹yz ¼çnttƒ ÇÐÈ `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§‘sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ

                        (الزلزلة :7-8)

                        Artinya : ”Barang siapa berbuat baik seberat zarrahpun, niscaya dia melihat (balasannya) dan sebaliknya barang siapa yang berbuat kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia melihat (balasannya) pula.” (Q.S. Al-Zalzalah 7-8) [16]

                        D. Kesimpulan

                          Berdasarkan paparan makalah di ata,maka dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

                          1. Secara etimologi (bahasa) Metode berasal dari dua perkataan yaitu ”meta” dan ”hodos”. ”Meta”  berarti ”melalui” dan ”hodos” berarti ”jalan atau cara”. Bila ditambah dengan ”logi” sehingga menjadi ”metodologi” berarti ”ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”.
                          2. Metode pendidikan Islam adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang digunakan oleh pendidik muslim, sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku, sehingga nilai-nilai Islami dapat terlihat dalam pribadi peserta didik.
                          3. Metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan Islam antara lain ialah metode hiwar, teladan, pembiasaan, bimbingan dan penyuluhan, cerita, hukuman, targhib dan tarhib.

                          Daftar Pustaka

                          M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.

                          Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Grafindo Persada, 1998.

                          Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an, 1971.

                          Suardi, Edi . tt . Pedagogik 2 . Cetakan ke- 2 . Bandung : Angkasa,

                          Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1991.

                          Ismail SM, M.Ag, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, Semarang : Rasail Media Group, 2008.

                          Surakhmad,Winarno. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito, 1998.

                          Syalhub, Fuad bin Abdul Azizi. Al-Muallim al-Awwal shalallaahu alaihi Wa Sallam Qudwah Likulli Muallim wa Muallimah, terj. Abu Haekal. Jakarta: Zikrul Hakim, 2005.

                          Yusuf, Tayar Anwar, Syaiful. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.


                          [1] Anwar, Qomari. Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa, (Jakarta: UHAMKA Press), hlm 42

                          [2] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara ), hlm 65

                          [3] Surakhmad,Winarno. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar (Bandung: Tarsito), hlm 96

                          [4] Yusuf, Tayar Anwar, Syaiful. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hlm 2

                          [5] Poerwakatja, Soegarda. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung), hlm 386

                          [6] Ismail SM, M.Ag, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, (Semarang : Rasail Media Group), hlm. 36-37

                          [7] Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Grafindo Persada), hlm 54

                          [8] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an), hlm 670

                          [9] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta : Raja Grafindo Persada), hlm. 63

                          [10] Suardi, Edi . tt . Pedagogik 2 . Cetakan ke- 2 . (Bandung : Angkasa.), hlm. 123

                          [11] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung:Remaja Rosdakarya), hlm. 26

                          [12] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an), hlm 315

                          [13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an), hlm 366

                          [14] Syalhub, Fuad bin Abdul Azizi. Al-Muallim al-Awwal shalallaahu alaihi Wa Sallam Qudwah Likulli Muallim wa Muallimah, terj. Abu Haekal. (Jakarta: Zikrul Hakim), hlm 59-60

                          [16] Al Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an), hlm 670